Rabu, 19 Februari 2014

SEKULARISME; BOM WAKTU YANG SIAP MELEDAK SETIAP SAAT

Kebenaran suatu agama bersifat absolut dalam pandangan pengikutnya, menjadi doktrin dan identitas bagi setiap agama.  Kebenaran dalam konteks keagamaan akan menjadi pembeda antara agama yang satu dengan yang lainnya.  Dalam Islam dikenal dengan "lakum diinukum waliyaddin".

Jika saja suatu agama tidak memiliki doktrin absolutisme diri, maka bisa dipastikan agama tersebut takkan dapat bertahan lama.  Sekularisme memandang bahwa kebenaran suatu agama itu bersifat relatif sehingga membuka celah untuk mengakui agama lain.  Sekilas paham sekularisme ini memang cukup "seksi" dan sesuai dengan kaidah perkembangan zaman.  Paham sekularisme ini menawarkan suatu bentuk masyarakat yang permisif dan cenderung menerima segala keyakinan dalam qalbunya.

Sampai disini beragama bukan lagi sebagai kebutuhan tapi sekedar formalitas belaka.  Secara perlahan paham sekularisme ini akan mendorong individu yang menerimanya  menjadi kehilangan identitas agamanya sendiri.  Ketika individu telah kehilangan jati diri atas agama yang dianutnya, maka ia akan mudah sekali tersusupi doktrin-doktrin non-agamis. Yang lebih berbahaya adalah ketika penganut paham sekuler ini menjadi terbuka terhadap sekte-sekte yang sudah jelas ahistoris dan menyimpang.  Tidak hanya itu, pemikiran sekuler (perlahan tapi pasti) akan membentuk suatu kaum atheis murni yang lebih mengerikan dibanding komunis.

Manakala suatu komunitas telah terpapar virus sekularisme ini, biasanya mereka akan berupaya sekuat tenaga untuk mencari persamaan antara agama satu dengan yang lainnya meski jelas-jelas berbeda.  Tidak hanya itu, fokus penghancuran selanjutnya adalah sendi-sendi negara yang mengatur tentang agama (pelemahan institusi).
Pokok paham sekularisme adalah pemisahan antara agama dan negara, agama dimasukkan dalam sanctuary room yang lebih bersifat privat, sedangkan urusan negara murni diletakkan di atas dasar argumentasi dengan segala sifat-sifat alamiah manusia, nyaris tanpa norma dan dogma.  Jika pemisahan antara agama dan negara ini berhasil, praktis manusia akan didorong untuk menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan hidupnya.  Pemandangan saling mangsa dan terkam antara kepentingan satu dengan kepentingan lain, antara individu satu dan individu lain menjadi pemandangan yang tak terelakkan.

Agama yang sejatinya menjadi filter dan rem dalam kehidupan manusia sehari-hari menjadi terabaikan.  Ibarat naik mobil supercepat tapi tanpa rem, apa jadinya?  Terlepas dari agama mana yang benar, sekularisme semestinya menjadi common enemy bagi setiap agama dimanapun berada.  Sekularisme ibarat racun terbungkus madu atau tuba bermerek susu.

Biarlah tiap agama memiliki doktrin absolutisme tersendiri, karena itulah yang menjadi pembeda dan menjadi identitas masing-masing.  Beragama yang benar adalah harus meyakini bahwa agamanyalah yang benar, tanpa menghina ajaran agama lain secara frontal.  Dalam hal aqidah tak ada tawar menawar, bagi seorang muslim sudah ada patron yang jelas "lakum diinukum waliyaddin". Standing position kita jelas, tanpa mengurangi rasa hormat kepada pemeluk agama lain dalam bingkai hablum minannas.

Kita semua tentu ingin kedamaian tegak di muka bumi, namun tentu bukan ditempuh dengan cara-cara klise dan tak bermartabat, seperti halnya paham sekularisme ini.  Kedamaian yang diharapkan lahir dari rahim sekularisme sejatinya hanya mimpi yang takkan pernah kesampaian.  Bagaimana mungkin kita ingin sehat dengan jalan meminum racun?

Semoga kita sanggup membentengi diri dan keluarga dari doktrin-doktrin sesat sekularisme, yang sejatinya akan mendorong manusia kederajat yang sangat rendah, bahkan lebih rendah dari derajat binatang sekalipun.

Sekian, wassalam....



Disadur dari kultwit akun @semesta_kicau










Tidak ada komentar:

Posting Komentar